teks

selamat datang di blog saya

Selasa, 11 Januari 2011

Airmata Ayah

Bagi ayah, kebahagiaan terbesar adalah bisa menangis. Ayah menggebu-gebu sekali untuk dapat menitikkan air mata, karena telah lama air mata ayah hilang entah ke mana.

“Ayah masih bisa merasakan bagaimana nikmatnya tangisan ayah yang terakhir,” kata ayah di meja makan malam tadi. “Sepertinya saat itu ayah telah mendapatkan firasat bahwa ayah akan kehilangan air mata.”

Mata ayah menerawang jauh. Bukan ke luar dirinya, namun lebih tepat ke kedalaman dirinya. Mata ayah seperti menusuk hatinya sendiri.

“Kalau ayah bandingkan air mata ayah saat itu, mungkin sama seperti kebenaran air bah yang memperlayarkan Perahu Nuh, atau mungkin persis keagungan air Laut Merah yang membukakan jalan bagi Musa dan pada akhirnya menenggelamkan kemurkaan Fir’aun.”

Mendengar kata-kata ayah, ibu hanya bisa menunduk. Ia mengurungkan niatnya untuk menghabiskan kue puddingnya. Bibirnya gemetar, mungkin oleh rasa mempersalahkan diri karena kehabisan cara untuk membuat ayah bisa memenuhi obsesinya. Memang semenjak ayah merasa bahwa ia tidak lagi bisa menangis, ibu selalu mencari kemungkinan-kemungkinan mengobati kelainan ayah tersebut. Dan dengan setia ibu menemani ayah untuk mencoba berbagai macam terapi. Sayang, semuanya belum membuahkan hasil seperti yang ayah harapkan.

Saya sendiri pun dengan berbagai upaya mencoba menawarkan kiat-kiat untuk dilakukan ayah agar bisa menangis. Dari yang biasa-biasa saja sampai ke yang menjurus gila-gilaan. Saya pernah mengkliping tulisan-tulisan media massa tentang kejahatan yang bagi kebanyakan orang merupakan perbuatan di luar kemanusiaan. Pembunuhan sadis, penganiayaan, perkosaan, lengkap dengan kisah-kisah mengharukan dari keluarga dan lingkungan dekat korban. Kiat-kiat tersebut saya bagikan pada ayah dengan asumsi bahwa mengajari ayah tentang mengapa ayah harus menangis akan cepat membuat ayah bisa menangis, daripada mengajarkan bagaimana ayah harus menangis.

“Ayah telah membaca kasus Marsinah?” tanya saya suatu waktu.

“Yaa,” jawab ayah datar.

“Coba, bagaimana tidak tertusuknya kemanusiaan kita membaca kasus itu. Buruh kecil, yang mencoba berjuang untuk mendapatkan hak-hak kecilnya, namun mati dibunuh oleh sesuatu yang entah apa namanya. Bahkan sampai saat ini pun belum ketahuan siapa yang membunuhnya.” lanjut saya.

“Yaa,” ayah masih setia dengan yaa-nya.

“Apa ayah tidak menangis? Atau sedikitnya terharu membaca hal itu?” tak sabar saya memberanikan diri bertanya tentang itu.

“Ayah ingin menangis,” kata ayah lirih.

“Apakah ayah juga telah membaca tentang perampokan terhadap sebuah keluarga, pembunuhan terhadap sebuah keluarga yang disertai dengan penganiayaan dan perkosaan? Bahkan sampai mengambil nyawa bocah-bocah yang tak berdosa?”

“Yaa,”

“Apa ayah juga tidak tersentuh, kemudian menangis melihat hal-hal semacam itu?” saya semakin tidak sabar menghadapi kelainan ayah.

“Ayah ingin menangis, tapi…” ayah menutup kata tapinya dengan menggeleng-gelengkan kepala.

Saya juga menganjurkan ayah untuk membaca buku-buku,menonton film, drama-drama, teater, bahkan semua hal yang mengandung kesedihan, keharuan. Saya pernah mengajaknya melihat-lihat perkampungan kumuh di pinggir-pinggir kali. Mengajaknya berkeliling di panti-panti asuhan. Tapi sampai saat ini belum tampak hasil yang memuaskan. Semuanya tampak seperti lewat begitu saja, bahkan seperti tidak pernah terjadi dalam kehidupan ayah. Semua kenyataan beku, bisu di hadapan ayah.

Atas saran saya juga, ayah sendiri telah mengundurkan diri dari jabatannya yang cukup tinggi di jajaran birokrasi. Walaupun gagasan itu pada awalnya mendapatkan tentangan dari keluarga dan kolega dekat ayah, namun ayah tanpa ragu berhasil keluar dari pengaruh tersebut. Sebagai alasan mengapa saya menyarankan hal itu adalah kekhawatiran saya, bahwa jabatan itulah sebetulnya yang membuat ayah menjadi seperti tidak berperasaan. Siapa tahu? Ayah mungkin bukan orang yang kuat yang pas menduduki jabatan tersebut. Kemudian saya anjurkan ayah mencoba mengemis atau jadi tukang sampah di jalanan, siapa tahu kekerasan jalanan dapat membangkitkan air mata ayah dari sumbernya yang tersembunyi. Namun gagasan itu kembali memunculkan tentangan dari keluarga. Bahkan lebih hebat dari yang sudah-sudah. Kakak saya yang perempuan sampai mengutuk dan menyumpah-nyumpah saya sebagai anak durhaka.

“Lagi, mana ada pengemis yang botak dan buncit kayak ayah?” kakak saya menguatkan sumpah serapahnya. “Kamu ini mau menolong ayah, apa menjerumuskan?”

***

“Sekarang ayah ingin menyampaikan hal yang lain kepada kalian,” ayah menyimpan lap tangan di sebelah kiri piringnya, “Kini ayah tidak bisa tertawa lagi.”

Kami semua, anak-anak ayah, juga ibu menjadi saling berpandangan. Entah harus bagaimana menghadapi kenyataan seperti yang ayah katakan. Di antara semuanya, mungkin saya yang merasa paling terpukul. Karena seminggu sebelum ini, saya pernah menganjurkan ayah untuk tertawa terus sepuas-puasnya, sampai air matanya bisa keluar. Ayah sendiri menuruti apa yang saya anjurkan, hari-harinya ia habiskan untuk tertawa-tawa di depan buku-buku dan film-film humor. Kupingnya lengket di tape recorder, mendengarkan banyolan dan lagu-lagu lawak. Tapi belum sempat ayah mengeluarkan air mata dari tertawanya, kini ia harus kehilangan semua tawanya.

Melihat kebingungan kami, ayah tampak serba salah. Setelah mengucapkan selamat malam, ia pun meninggalkan kami di meja makan. Oh, apakah ayah telah menjadi sufi tanpa ia sendiripun tahu, batin saya. Atau hati ayah kosong dari darah dan telah mengempes di dalam tubuhnya. Atau apakah ayah hanya menambah-nambah sandiwara yang ia lakonkan untuk keluarganya. Soalnya saya pernah beberapa kali bermimpi memergoki ayah sedang menangis karena ia menyadari ketegaannya membohongi istri, anak dan cucu-cucunya dengan mengatakan bahwa ia tidak bisa menangis, tetapi sejenak kemudian tertawa-tawa karena sukses berbohong di depan istri, anak dan cucu-cucunya.

Dengan rasa penasaran saya pun meninggalkan ruang makan menuju kamar ayah. Di langkah-langkah saya yang sengaja dilambatkan, terbayang kemungkinan buruk ayah di masa depan. Setelah kehilangan air mata, tawa, akankah ayah kehilangan heran, rasa terkejut dan rasa adanya. Kemudian kehilangan dimensi-dimensi dan ruang waktu kemanusiaannya.

Lewat lubang kunci saya melihat ayah mencari-cari sesuatu di atas buffet. Kemudian saya lihat Al-Quran di genggamannya, dilihat-lihatnya sejenak, lalu disimpannya kembali di atas buffet. Ayah berjalan menuju pintu.

“Apakah ayah tidak tergetar untuk membacanya?” tanya saya sewaktu ayah muncul di muka pintu.

“Ayah sudah tak punya getar lagi,” jawab ayah.

Senin, 10 Januari 2011

Marni! Oh, Marni!

Oleh : Palti R Tamba

Sebuah truk berhenti jauh di depan sana. Truk dengan atap terpal. Semula Nawar, mengira truk itu hendak berhenti di halte, karena itu ia terjaga. Ia mencurigai cara perhentian kendaraan itu. Maka ia pun bersiap-siap melarikan diri.

Namun Nawar terlambat kabur. Tak terduga olehnya, dua lelaki berseragam sudah berada di sebelahnya. Mereka memegang tangannya kuat-kuat. Mereka menggiringnya.

”Hayo Cepat!” bentak salah seorang sambil menghentakkan lengan Nawar.

Nawar menatap mereka dengan rasa takut. Meskipun tidak jelas benar terlihat olehnya. Seorang di kiri dan seorang lagi di kanannya. Ia tak tahu hendak berkata apa.

”Apa yang kau lihat, goblok!” Yang di kiri mementung kepalanya.

Nawar meringis. Kedua tangannya meregang. Dalam hati ia berdoa semoga mereka lengah, sehingga ia bisa melarikan diri. Ya, untuk menyembunyikan diri entah di mana saja. Meskipun sebenarnya, ia tak mengenal daerah ini.

”Kau kira ada hakmu untuk mengenali kami, hah…?”

Nawar menatap lelaki di kanannya. Lelaki itu melihat lurus ke depan. Namun, lelaki di sebelah kiri mementung kepalanya lagi.

”Apa, heh?… Kau pikir kau ini siapa…?” tantangnya. ”Barangkali dia pikir dia dapat menuntut kita, Pak Kadim. Dasar anak gelandangan…!”

Anak gelandangan? Nawar membatin. Aku anak gelandangan?…

”Ayo, cepat! Kami bisa dipecat kalau sampai tamu-tamu negara sempat melihat orang-orang seperti kau!… Dan, aku tak sabar lagi untuk menemani Marni, Pak Kadim…!”

”Tapi, Pak Bobi! Giliran kau menyetir sekarang…!”

”Begitu…?”

”Ya, pembagian tugas tetap berjalan, kawan. Jangan ketika kita mendapat kembang kau lupa. Ha, ha… Sekarang aku yang menemani Marni, Pak Bobi…!”

Pak Kadim memasangkan borgol di kedua pergelangan tangan Nawar. Lalu lelaki berseragam itu menarik remaja kencur itu ke dalam truk.

Pak Kadim menyenteri muka Nawar, lalu muka setiap orang dalam truk. Namun ketika sinar senter menerpa muka seorang lelaki tua, ia menyuruhnya mendekat. Lelaki berseragam itu membuka satu borgol di pergelangan Nawar, lalu memasangkannya ke pergelangan tangan si tua itu. Ia pun turun dengan tenang tanpa berkata apa-apa. Ia cuma bersiul.

Truk pun melaju. Dalam truk, ada enam lelaki. Tiga di antaranya anak-anak, tapi ada lebih banyak perempuan. Anak-anak, remaja dan perempuan dewasa.

Nawar sebisanya melihati muka mereka. Samar-samar. Marni, di mana kau berada? Kaukah yang mereka percakapkan? Bisik hatinya.

”Kau mencari siapa, Nak…?” tanya lelaki tua—teman satu borgolan, pelan.

”Marni….” Remaja kencur itu mengangguk. Angin malam mencubit-cubit kulit.

Truk tiba-tiba direm, orang-orang yang berdiri ada yang terjerembab. Dua perempuan terjatuh bagai batang tebu ditebas golok tajam. Si lelaki tua terkekeh-kekeh. Kedua perempuan itu secara spontan melontarkan sumpah serapah berkali-kali kepada dua lelaki berseragam di jok depan.

”Kau mencari siapa, Nak…?” Si lelaki tua kembali menanya Nawar.

”Marni, Pak, eh, Kek..,”

”Marni yang mana…?”

Nawar menghela nafas, meragu. Marni yang mana?… Ada berpuluh-puluh Marni di kota ini… Atau mungkin ada beratus-ratus Marni di kota ini?… Kota apakah ini sehingga mengumpulkan berpuluh-puluh, beratus-ratus orang bernama Marni?…

Si lelaki tua menatap Nawar dekat-dekat. Si lelaki tua lainnya dan istrinya mendekatinya. Sementara yang lainnya larut dalam diam, seolah bisu, buta dan tuli.

”Tak usah takut, Nak…,” kata lelaki tua itu. ”Kita ini dibawa ke rumah penampungan. Biasalah…. Dikasih—apa istilahnya?—pengarahan…. Dipulangkan…. Ya…. Beberapa hari berikutnya, kita datang lagi….”

Si lelaki tua beristri mendekatkan muka ke muka Nawar. ”Sepertinya aku pernah bertemu kau…. Dari tadi aku mengingat-ingat… sejak mukamu disenteri petugas itu…!”

”Bapak… eh, Kakek pernah bertemu saya…?” tanya Nawar.

”Ii-iya. Di tanah lapang!… Aku tak tahu nama tempat itu, tapi…. Waktu itu, di tempat itu ada orang bermain bola kaki…. Aku dan istriku ada di situ…!”

Waktu itu? Nawar menggigit bibir. Ia tak mengingatnya.

”Aku membawa kantong plastik hitam besar. Kami diberi orang nasi kotak berisi ayam goreng. Kami mengajak kau makan. Tapi kau menolak…. Iya kan…?”

Sungguh. Nawar tak pernah melihat pasangan orangtua ini sebelumnya. Namun, ia pun tak jelas ingat sejak kapan di kota ini…. Dua hari lalukah? Seminggu lalukan?… Oh! Ia bahkan merasa sudah berbulan-bulan meninggalkan kampung di Brebes sana.

”Kenapa? Belum ingat…?” kata si lelaki tua beristri. ”Tidak apa-apa….”

”Ti-dak pernah, Pak, eh Kek….”

Truk melalui jalan yang terang benderang. Di kiri dan kanan jalan gedung-gedung perbelanjaan bermandikan cahaya lampu. Terang benderang, seperti pada siang hari. Nawar bersama si lelaki tua dan beberapa orang lainnya bergeser ke tepi bak truk untuk melihat ke luar: gedung-gedung, bermacam-macam billboard, mobil-mobil dan orang-orang yang berjalan kaki. Ada bapak dan ibu menggandeng dua anaknya menyeberang jalan di sebelah sana. Ada anak-anak kecil mengamen di jalan sebelah sini ketika lampu lalu lintas berwarna merah. Namun, anak-anak itu berlarian sesaat melihat truk itu.

Kemudian truk itu berbelok ke kiri. Kira-kira sejauh satu kilometer, berbelok ke kanan lagi. Memasuki jalan yang sepi. Ada tiang-tiang lampu jalan, tapi lampunya tak menyala. Dan truk pun berhenti. Dan beberapa menit kemudian Nawar mendengar suara-suara perempuan. Terdengar pula besi palang truk dilepas.

”Aku tak mau, Pak…”

”Akan dibawa kemana kami, Pak..?”

Nawar melihat empat perempuan dipaksa naik ke truk. Bau parfum mereka yang khas seperti menyambut penciuman Nawar. Setelah mereka naik, si lelaki berseragam itu memasang borgol di tangan mereka. Bagai domba yang dibawa ke pembantaian, perempuan-perempuan itu tak melawan.

Lelaki berseragam itu turun, lalu memasang besi palang truk. Dan truk melaju lagi. Keempat perempuan itu saling berpegangan.

”Marni yang mana yang kau maksud, Nak? Aku bisa memberitahumu…?” suara si lelaki tua, lagi.

”Ya, mungkin aku kenal juga…” tambah lelaki tua beristri, melihat istrinya.

”Kami…,” ralat istrinya seraya mencubit lengannya.

”Ya, ya. ka-mi….”

Nawar mendekatkan muka ke sisi lelaki tua dan perempuan tua itu. ”Kakak saya…. Dimana dia kini, Kek? Saya mau ber….”

”Kakak kau, Nak…?” tanya ketiga orang tua itu, bersamaan.

”Ya…,”

Lelaki tua itu menggeleng. Lelaki tua beristri menggeleng, diikuti istrinya.

”Aku ini Marni…!” terdengar tiba-tiba.

Nawar, si lelaki tua, lelaki tua beristri dan istrinya dan orang-orang lainnya melihat seorang perempuan mendekat dengan mendekapkan tangan ke dadanya. Samar-samar.

”Tapi, aku Marni dari Kemakmuran…!” katanya dengan suara berat.

”Dari Jalan Kemakmuran, Sayang!” ralat temannya dengan suara berat juga.

”Ya, ya, Sayang….”

Bencong? Nawar sering menonton bencong di tv, entah dalam acara lawak ataupun sinetron. Dan sekarang, ada di hadapannya. Mereka persis perempuan. Tapi suara yang berat itu jelas milik lelaki!….

”Kau ini perempuan apa laki-laki?” tanya lelaki tua itu.

”Ai, ai, kota lontong!…. Sudah truk larinya tak karuan, ditanya macam-macam lagi, ya, Sayang,” ujar seorang dari bencong itu. Dia memeluk temannya karena hampir terjerembab. Lalu kedua bencong itu berpegangan ke tepi bak truk. Berlompatan sumpah serapah dari mulut mereka.

Si lelaki tua mengajak Nawar duduk. Nawar menaruh matanya ke langit sana. Namun kemudian, setelah menaikkan kedua lututnya dan menaruh kepalanya di situ, Nawar memejamkan mata. Lambat-laun, Nawar merasa ada air mata yang keluar dari sudut-sudut kelopak matanya.

Seingat Nawar, seturun dari bus, ia dan Marni ke luar terminal. Marni mengirim SMS ke majikannya yang perempuan. Di luar terminal itu, mereka menunggu sang majikan yang akan datang menjemput. Tapi kemudian seorang lelaki mendekati Marni. Marni bercakap-cakap girang dengan lelaki itu. Marni memperkenalkan pacarnya itu kepada Nawar sebagai sopir yang khusus mengantar jemput anak-anak majikan mereka ke dan dari sekolah, serta ke mana pun. Ya, Marni pernah cerita pada Nawar tentang lelaki itu yang mengirim SMS menanyakan kepulangannya. Lalu, lelaki itu mengajak Marni dan Nawar masuk mobil. ”Supaya kita jangan kemalaman tiba di rumah,” kata lelaki itu.

Seingat Nawar, Marni sempat menanyakan mobil yang dikemudikan lelaki itu. Karena mobil itu bukan mobil yang biasa dikemudikan lelaki itu. ”Mobil sedang di bengkel,” demikian jawab si lelaki.

Mereka pun meninggalkan terminal. Di tengah jalan agak sepi, mobil berhenti, dan naik dua lelaki lagi. Nawar mendengar Marni menanyakan sang pacar tentang dua lelaki yang baru naik itu. ”Teman. Mereka numpang karena searah,” jawab lelaki itu.

Kira-kira lima menit berlalu, mobil itu mengambil jalan ke pinggir dan dengan kecepatan lambat. Marni yang duduk di jok depan diajak si pacar bercakap-cakap terus. Nawar yang semula duduk di sebelah dalam di jok tengah, disuruh pindah oleh dua lelaki yang duduk bersamanya itu ke pintu kiri. Kemudian seorang dari mereka membuka pintu pelan-pelan. ”Aku kegerahan,” katanya. Dan semakin lebar. Dan tiba-tiba, dua lelaki itu mendorong Nawar keluar.

Seingat Nawar, ia menjerit-jerit minta tolong, tapi ia pun tak berhasil mengenali mobil yang mereka tumpangi itu.

Nawar terbayang bagaimana Marni membujuknya agar ikut ke kota besar ini selepas lebaran. Majikan Marni telah menyetujui Nawar dibawa serta. Mendengar cerita Marni tentang kebaikan majikannya, sebenarnya Nawar merasa biasa saja. Walaupun tak bisa ia pungkiri ada keinginan terpendam untuk melihat kota besar ini. Karena selama ini, ia hanya melihat lewat siaran tv milik tetangga. Bapak membujuk, Nawar bergeming. Namun ijin ibu-lah yang membuat Nawar luluh. Ibu yang berjanji akan menggembalakan tiga ekor kambingnya itu. Bapak yang akan menggantikan Ibu bila Ibu mendapat kerja upahan. Bapak akan membagi waktunya untuk menarik becak dan menggembalakan ternak itu.

”Sampai lebaran tahun depan tak lama, Nak. Asal rajin dan tekun, kau akan pulang bawa uang. Bisa buat biaya adikmu Agus menyambung SD nya dan biaya Tini masuk SD. Kalau kau rindu kami, kan ada kakakmu…. Bila matahari di ufuk barat, ingatlah bahwa Ibu atau Bapakmu sedang membawa kambingmu ke kandang….!” kata ibu malam itu….

Cikarang Selatan, Juni 2006

Palti R Tamba (9 September 2007)

Gincu Ini Merah, Sayang

Oleh :Eka Kurniawan



Seorang perempuan dengan gincu serupa cahaya lampion melangkah menuju pintu bar Beranda. Di saat yang sama lima buah pick-up berhenti tepat di depan gerbang. Di masa lalu, hal seperti ini biasanya lebih dulu diketahui sehingga gadis-gadis yang bekerja di bar memiliki waktu lebih luang untuk bersembunyi atau pulang. Para petugas menyerbu masuk dan seketika terdengar jeritan gadis-gadis, serta para pelanggan yang lari berhamburan. Yang tak diduga Marni, nama perempuan bergincu itu, lima petugas tiba-tiba menghampiri dirinya, sebelum menangkap dan membawanya ke pick-up.

Aku hanya seorang ibu rumah tangga,” katanya, setelah keterkejutannya reda.

“Katakan itu nanti kepada suamimu,” seorang petugas menjawab.

Ini pasti malam yang buruk, pikirnya. Para petugas itu bicara mengenai peraturan daerah tentang pelacuran dan memperlakukannya seolah-olah ia pelacur. Dalam hatinya, ia mengakui pernah menjadi pelacur, tapi malam ini ia berani bersumpah bahwa dirinya hanya seorang ibu rumah tangga. Ia belum punya anak memang, Tuhan belum memberinya, tapi ia punya suami. Para petugas tak menggubris soal itu. Menurut mereka, semua pelacur selalu merasa punya suami dan mengaku hanya seorang ibu rumah tangga.

Bersama gadis-gadis dari bar, mereka membawanya ke kantor polisi dan memperoleh interogasi sepanjang malam. Ia meminta gadis-gadis itu membantunya meyakinkan para petugas bahwa dirinya bukan bagian dari mereka. Tapi tiga tahun berlalu dan ia tak lagi mengenali gadis-gadis itu, demikian pula mereka tak mengenalinya. Semuanya gadis baru dan ia tak menemukan teman-teman lamanya di antara mereka. Gadis-gadis itu tak punya gagasan tentang siapa perempuan itu dan apa yang dilakukannya di pintu Beranda pada pukul setengah dua malam.

Menjelang subuh, tanpa tertahankan Marni akhirnya menangis. Ia kembali memohon minta dibebaskan, berkata bahwa suaminya pasti akan merasa kehilangan dan barangkali kini tengah mencari-carinya. Seorang petugas, dengan mulut yang sinis, berkata, “Jika benar kamu punya suami, besok pagi ia akan menjemputmu.”

“Tetapi, suamiku tak tahu aku ada di sini,” katanya.

“Jadi, kamu jual dirimu tanpa suamimu tahu, heh?”

Sejujurnya ia sungguh tersinggung dengan ucapan tersebut. Ia kembali berpikir, barangkali ini memang malam buruknya. Beruntunglah menjelang pagi seorang perempuan dari dinas sosial berbaik hati menghubungi suaminya. Setelah bicara dengan Rohmat Nurjaman, suami Marni, perempuan dari dinas sosial itu kemudian berbaik hati mengantarkan Marni pulang. Penuh rasa syukur Marni mencuci muka, menaburkan bedak yang dipinjam dari seorang gadis bar ke mukanya, dan memoleskan gincu ke bibirnya. Ia akan pulang dan bertemu kembali dengan suaminya.

Namun, sesampainya di rumah, selepas kepergian perempuan yang mengantarnya, Marni dihadapkan pada keadaan yang tidak lebih baik. Di atas sofa, tergeletak koper berisi barang-barangnya. Rohmat Nurjaman berdiri di pintu kamar, memandang wajah istrinya, terutama gincu di bibir Marni dengan sejenis tatapan kau-laksana-perempuan-binal, berkata pendek, “Sebaiknya kita bercerai saja.”

Marni ingin menjelaskan, tetapi tak tahu apa yang harus dijelaskan. Dan, Rohmat Nurjaman tampaknya tak menginginkan penjelasan.

Sebenarnya Rohmat Nurjaman tak suka melihat istrinya mempergunakan gincu. Tapi jika ia melarangnya, dan kemudian mengemukakan alasannya, ia khawatir itu akan menyinggung perasaan istrinya. Marni pasti tak suka jika kepadanya ia berkata, “Dengan gincu itu kau tampak serupa pelacur.”

Masalahnya, ia memang menemukan istrinya di satu tempat remang-remang beberapa tahun lalu. Tentu saja itu masa lampau dan mereka telah bersepakat melupakannya. Itu masa-masa ketika Rohmat Nurjaman bersama tiga temannya menghabiskan malam-malam di beberapa bar dangdut yang berserakan di sepanjang Jalan Daan Mogot. Di sanalah Rohmat Nurjaman berkenalan dengan Marni.

Awalnya hubungan mereka merupakan pertemuan ganjil antara pelanggan dan pelayan. Seperti semua orang tahu, gadis-gadis yang bekerja di tempat serupa itu selalu akan mempertahankan pelanggannya agar tidak diambil gadis lain. Ini menyangkut penghasilan tambahan mereka yang kenyataannya lebih besar daripada upah yang dibayarkan pemilik bar. Tak jarang timbul cekcok di antara gadis-gadis itu jika seorang dari mereka menyerobot pelanggan milik gadis lain. Biasanya ini terjadi dengan gadis baru atau pelanggan yang lama tak muncul.

Bagi pelanggan sendiri, paling tidak bagi Rohmat Nurjaman kala itu, kecenderungan gadis-gadis tersebut juga menguntungkannya. Ini memberinya jaminan setiap kali datang ke bar tersebut, ia akan memperoleh seorang gadis. Percayalah, tak menyenangkan berada di tempat serupa itu, dengan biduan bernyanyi di atas panggung kecil dan bir di atas meja, tanpa seorang gadis bergelayut di sampingmu.

Begitulah, setiap kali ia datang ke Beranda, salah satu bar dangdut di daerah tersebut, Rohmat Nurjaman akan ditemani Marni. Bisa dihitung dengan jari kunjungan Rohmat Nurjaman tak membuatnya bertemu dengan Marni. Biasanya itu terjadi saat jatuh hari libur si gadis, atau si gadis meriang, atau pulang kampung ke Banyumas.

Hubungan ini berkembang menjadi sejenis keseriusan yang menjadi candu. Di siang hari yang penat, dengan udara yang membosankan, sekonyong Rohmat Nurjaman menemukan dirinya mengirimkan pesan pendek kepada gadis itu, “Kamu sedang apa? Nanti malam jangan sama yang lain, aku akan datang.”

Dan suatu pagi, Rohmat Nurjaman menemukan pesan dari si gadis di layar telepon genggamnya, “Mas, nanti malam datang tidak? Aku kangen.”

Tentu saja bukan waktu yang singkat dalam hubungan mereka yang semacam itu, jika kemudian Rohmat Nurjaman memutuskan mengeluarkan gadis itu dari bar Beranda sekaligus meminangnya. Rohmat Nurjaman pergi ke pedalaman Banyumas ditemani ketiga temannya. Di sana ia menikahi Marni, sebelum membawanya kembali ke Jakarta dan tinggal di sebuah rumah mungil agak di luar kota.

Ternyata itu bukan perkawinan yang mudah. Pada hari-hari pertama perkawinan mereka, Rohmat Nurjaman sering didera mimpi melihat istrinya ditiduri para pelanggan lain di kamar-kamar Beranda. Karena Rohmat Nurjaman tahu di suatu masa mimpinya merupakan kebenaran, ia sering dilanda kecemburuan begitu terbangun dari tidur. Marni juga didera khayalan yang mengganggu, membayangkan suaminya pergi ke Beranda dan meniduri gadis lain. Ini pun pernah terjadi dan mereka berdua tahu.

Kecemburuan itu membawa mereka pada pertengkaran kecil, yang lalu diselamatkan oleh cinta. Suatu hari, di bulan ketujuh belas pernikahan mereka, keduanya berjanji untuk tak lagi mengenang masa lalu dan mengubur habis semua kecemburuan. Setelah itu segalanya berjalan lebih baik.

Kecuali gincu di bibir Marni.

Ia belajar mempergunakan gincu dari Maridah, perempuan yang saat itu paling tua di bar. Maridah pulalah yang membawanya dari Cibolang, sebuah nama yang tak ada di peta dan hanya akan disebut sebagai “di pedalaman Banyumas”. Banyak gadis-gadis di awal belasan tahun telah dibawa Maridah ke Jakarta dari tempat itu. Sejak awal mereka tahu akan bekerja di bar-bar semacam Beranda, tetapi Maridah meyakinkan mereka dengan berkata, “Kamu tak perlu jadi pelacur di sana, cukup melayani pelanggan minum bir.”

Awalnya memang begitu, tetapi tidak benar-benar begitu. Para pelanggan itu tak hanya ingin dilayani menuangkan bir ke gelas mereka, tetapi minta didampingi. “Temani saja,” kata Maridah. Jadi, ia duduk di samping mereka, ikut minum dan makan cemilan, dan sesekali ikut nimbrung dalam obrolan mereka. Itu tak seberapa jika tangan para lelaki pelanggan itu bisa diam. Jemari mereka cenderung bergerak, awalnya hanya menyentuh tangan, lama-lama merayap ke segala arah.

Belakangan ia mulai belajar dengan cara itulah ia bisa memperoleh uang lebih banyak. Dan, kemudian tahu, jika ingin memperoleh lebih banyak lagi, ia mesti tidur dengan mereka. Lima bulan selepas itu Marni kehilangan keperawanannya dan hidupnya terus berjalan dari malam ke malam hingga ia berjumpa dengan Rohmat Nurjaman.

Dalam hal-hal tertentu, Rohmat Nurjaman tak berbeda dengan pelanggan lain yang gemar menjamah. Bahkan, lebih buruk karena kadang membayar lebih sedikit. Tetapi, dalam perkara lain, ada hal-hal berbeda yang disukai Marni. Tidak seperti pelanggan lain yang buru-buru mengajak ke lantai atas menjelang pukul lima, di mana terdapat kamar-kamar untuk telanjang, Rohmat Nurjaman lebih suka membawanya keluar selepas bar tutup.

Mereka akan mencari motel dan itu berarti Marni tak perlu berbagi penghasilannya dengan pemilik bar. Itu bukan satu-satunya yang menyenangkan buat Marni. Di motel mereka tak merasa perlu buru-buru, mereka bisa bermalas-malasan hingga pukul dua belas siang. Mereka juga bisa berjalan-jalan di siang hari selepas itu, mencari sarapan yang terlambat. Apa boleh buat, itu membuat mereka lambat-laun mulai jatuh cinta satu sama lain.

Sejarah kecil itu diketahui sepenuhnya oleh Rohmat Nurjaman.

Tiga tahun usia perkawinan mereka, namun Rohmat Nurjaman masih merasa sesuatu mengganjal dalam kehidupannya. Itu adalah gincu di bibir istrinya. Gincu yang sama sebagaimana ia pernah melihatnya di keremangan bar Beranda. Memang ketika mereka mengikrarkan pernikahan, keduanya telah berjanji untuk menjalani hidup baru sebagai suami dan istri, bukan pelayan bersama pelanggannya.

Tetapi, Marni masih mempergunakan gincu yang sama dan dengan cara yang sama. Rohmat Nurjaman ingin melarangnya, tapi berpikir jika ia melakukannya, itu hanya akan mengingatkan kepada masa-masa mereka di bar. Dari pagi ke pagi, dari senja ke senja, gincu itu semakin mengganggunya. Hingga akhirnya Rohmat Nurjaman mulai bertanya-tanya apa yang dilakukan istrinya sementara ia pergi bekerja.

Rohmat Nurjaman tak pernah berhasil membuktikan kecurigaan atas istrinya. Bahkan, meskipun beberapa kali ia sengaja mendadak pulang, ia selalu menemukan istrinya ada di rumah, menunggunya. Hingga suatu pagi seorang perempuan dari dinas sosial meneleponnya dan ia merasa memperoleh bukti untuk kemudian menghukumnya tanpa ampun dengan sebaris kalimat pendek:

“Sebaiknya kita bercerai saja.”

Tak ada tempat untuk pergi kecuali ke Beranda. Pemilik bar masih mengenalinya dan memperbolehkan Marni untuk kembali bekerja di sana.

Di tempat itu ingatannya kepada Rohmat Nurjaman malah menjadi-jadi. Saat menemani seorang pelanggan, ia akan mengenang masa ketika mereka bicara tentang banyak hal. Kebanyakan tak dimengertinya, tapi dengan senang hati ia mendengarkan, dan Rohmat Nurjaman tak pernah menuntutnya untuk mengerti. Suatu ketika Rohmat Nurjaman berkata kepadanya, “Banyak perempuan di luar sana, beberapa pernah jadi pacarku, gemar bicara padahal mereka tak mengerti apa pun.”

Ia merasa itu pujian untuknya. Tetapi, saat paling membahagiakan dalam hidupnya adalah malam ketika Rohmat Nurjaman berkata:

“Rasanya aku mencintaimu.”

Sejak itu ia mulai sering berdandan setiap tahu akan bertemu Rohmat Nurjaman. Ia tak tahu banyak hal untuk diberikan kepada kekasihnya, kecuali memamerkan senyum yang tulus berhias gincu.

Hingga tiga tahun perkawinan mereka dan Marni mendapati suaminya berubah. Rohmat Nurjaman sering tak pulang dan tak lagi mencumbunya dengan kegairahan seorang lelaki cabul. Barangkali aku tak lagi cantik, pikirnya. Barangkali karena tak juga kami punya anak, katanya kepada diri sendiri. Atau barangkali suaminya pergi kembali ke Beranda dan menemukan gadis yang lebih manis di sana? Barangkali gadis itu masih empat belas tahun dan mengoleskan gincu lebih tebal di bibirnya? Marni merasa panas namun mencoba membuang kecurigaan tersebut. Meski begitu, suatu malam ketika suaminya tak juga muncul selewat pukul dua belas dan pertanyaan-pertanyaan di kepalanya tak pula menemukan jawaban, perempuan itu memutuskan keluar rumah.

Marni memoleskan gincu ke bibirnya, percaya itu akan membuat Rohmat Nurjaman kembali ke pelukannya. Ia menghentikan sebuah taksi dan minta diantar ke Beranda. Di sana, atas nama peraturan daerah tentang pelacuran, lima orang petugas menangkap Marni. Sejujurnya ia mulai menganggap semua itu hukuman untuknya, yang telah berburuk sangka suaminya pergi ke Beranda untuk meniduri perempuan lain. Menurut dia, itu malam buruk yang diawali pikiran buruk dan ia sungguh menyesal.

Kini, kembali bekerja di bar tersebut, Marni terus memelihara keyakinan bahwa suatu malam suaminya akan muncul, lalu mereka akan memulai semuanya dari awal. Dalam penantiannya, ia masih kukuh pada janji yang tak pernah diucapkannya. Ia tak mengenakan gincu. Seorang gadis dua belas tahun yang baru bekerja di sana pernah menanyakan mengapa ia tak bergincu, dan Marni menjawab:

“Gincu ini merah, Sayang, dan itu hanya untuk suamiku.”

Memang sejak ia jatuh cinta kepada Rohmat Nurjaman, apalagi setelah mereka menikah, ia tak pernah membuat merah bibirnya untuk lelaki lain.

Kursi Empuk di Dada Sumarti

Oleh :Pamusuk Eneste



Ketika kaum kerabat, handai tolan, kenalan, dan tetangga satu per satu meninggalkan rumah duka, tahulah Sumarti bahwa ia akan sendirian. Sumarti akan menjalani sisa hidupnya seorang diri. Ditemani pembantu rumah tangga, tukang kebun, dan penjaga malam. Itu pun sepanjang Sumarti mampu membayar mereka setiap bulan.

Sesekali putri, menantu, dan cucunya akan datang berkunjung.

“Nuwun sewu…,” terdengar suara pembantu Sumarti.

Sumarti menoleh.

“Makan malam sudah siap, Nyonya.”

“Ya, sebentar. Saya mandi dulu.”

Sumarti menuju kamar mandi. Ingin mengguyur badannya yang sedari tadi terasa gerah dan berkeringat. Mumpung malam belum larut.

Sumarti mulai memereteli baju luarnya yang berwarna hitam. Tatkala sampai pada penutup dada, Sumarti terkesiap. Ternyata secarik kertas bertengger di dadanya. Bagusnya kursi empuk itu….

Lha, kursi empuk? Kursi empuk mana? Yang di kantor atau yang di rumah? Di rumah Sumarti banyak kursi empuk. Ada di ruang baca. Ada di ruang tamu. Ada di ruang makan. Belum lagi di teras depan dan teras belakang. Kalau kursi empuk di kantor, bagaimana pula prosedurnya? Bagaimana mungkin kursi parlemen dibeli? Oalah…!

Serampung mandi malam, Sumarti ingin sekali menelepon seseorang. Sekadar berbagi rasa. Sumarti ingin menceritakan keinginan almarhum yang tercantum dalam wasiat itu.

Sumarti bergegas ke tempat telepon di ruang keluarga. Di tempat telepon itu Sumarti bergeming. Hendak diraihnya gagang telepon, tetapi tangannya serasa diikat. Sumarti pikir, kalau ia menelepon orang itu, mungkin kabar itu akan menyebar ke mana-mana bak air bah dari gunung.

Sumarti pindah ke sofa. Ditimang-timangnya kertas kecil yang berasal dari dadanya itu. Ia kenal betul tulisan itu. Itu pasti goresan serta tanda tangan almarhum suaminya. Bagusnya kursi empuk itu dimasukkan ke dalam tanah….

Sumarti menyandarkan bahunya di sofa. Ditatapnya tulisan tangan almarhum dalam-dalam. Ia paham maksudnya, namun tak tahu cara mewujudkannya.

Ada satu hal yang mengherankan Sumarti. Kenapa secarik kertas itu baru diketahuinya ketika acara penguburan telah usai? Kenapa wasiat itu baru ditemukan Sumarti setelah kembali dari pemakaman, padahal almarhum ingin, surat ini dibaca begitu aku mengembuskan napas terakhir, jangan setelah aku di dalam tanah?

Sumarti menjadi serba salah. Ia merasa kesiangan membaca pesan almarhum. Ia baru memergoki wasiat almarhum setelah kaum kerabat, handai tolan, dan kedua putrinya serta kedua menantunya kembali ke rumah masing-masing.

Duh, Gusti!

Kepala Sumarti serasa mau pecah.

Sumarti ingin mengabari kaum kerabatnya. Ingin memberi tahu mereka perihal permintaan almarhum. Lantas ingin mendengar nasihat mereka.

Sumarti mendekati telepon yang ada di meja kecil. Dia raih gagang telepon, namun Sumarti terpana sejenak. Bukankah ia akan dibilang bodoh kalau mengungkapkan keteledorannya pada kaum kerabat? Bukankah kaum kerabat akan menertawakan kealpaannya?

Sumarti bimbang. Dijauhinya telepon dan kembali ke sofa.

Sumarti merasa pusing tujuh keliling. Mestinya dari tadi dia menemukan wasiat itu dan membicarakannya dengan kaum kerabat, ketika belum berlangsung upacara penguburan. Kini semua orang sudah berlalu. Memang Sumarti sering mengamini kata orang bijak, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Namun, Sumarti pun sadar, mengumpulkan kaum kerabat, handai tolan, dan keluarga dekat bukanlah sekadar membalik telapak tangan.

Sumarti melonjorkan kakinya. Sumarti mengatupkan matanya sembari menyesali diri. Ia coba melupakan wasiat itu, tetapi yang muncul adalah wajah almarhum. Kalau bisa, kursi empukku ditaruh di samping jasadku.

Setahu Sumarti, surat wasiat lazimnya berisi pembagian harta untuk orang yang masih hidup. Ini malah mengenai kursi empuk segala yang harus dibawa ke dalam kubur. Namun, Sumarti terpaksa mengurut dada karena yang menulis surat wasiat adalah almarhum suaminya.

Sumarti ingin menghubungi kedua putrinya. Siapa tahu mereka bisa berbagi rasa. Sumarti yakin, anak-anaknya pasti akan menolongnya. Paling tidak meringankan bebannya.

Meski Endang Setianingrum dan Esti Setianingsih sudah membelikan telepon genggam, Sumarti tak pernah mau menggunakannya. Kedua telgam itu hanya menjadi penghuni lemari Sumarti. “Ibu kuno,” kata kedua putrinya.

Sumarti tak sakit hati dicap kuno. Bagi Sumarti lebih sreg menerima dan menelepon secara tradisional. Tidak perlu beli pulsa. “Boros,” katanya, “mendingan uangnya aku tabung.” Jadilah Sumarti tetap lebih asyik dengan telepon-rumah. Sumarti tetaplah “orang kuno”, menurut istilah kedua putrinya. “Lagi pula, aku tak mau diganggu telepon genggam pada waktu tidur,” kata Sumarti.

Sumarti kembali mendekati telepon-rumah. Sumarti ingin menelepon putri sulungnya, Endang Setianingrum. Ingin menceritakan permintaan terakhir almarhum, lantas apa yang harus diperbuat. Diraihnya gagang telepon, namun ditaruhnya kembali. Jangan-jangan putrinya malah mencecarnya dengan macam-macam pertanyaan. “Kok Ibu baru menemukannya sekarang? Kok tidak dari tadi menemukan wasiat Bapak itu? Kok Ibu tidak dari tadi-tadi menyadari adanya wasiat itu?” Sejumlah kok lainnya pun meluncur dari mulut putri sulungnya.

Sumarti tak mau disalahkan. Sebaliknya, Sumarti justru mengharapkan dukungan dari orang-orang terdekat.

>diaC<

Sumarti mengurungkan niatnya dan kembali bernadra di sofa.

Kemudian terpikir oleh Sumarti mengontak putri bungsunya, Esti Setianingsih. Putri keduanya ini mungkin bisa memberi jalan keluar. Sumarti tahu watak putrinya ini. Tidak seketus kakaknya, Endang Setianingrum. Didekatinya kembali telepon. Diraihnya gagang telepon. Diputarnya nomor Esti Setianingsih. Ketika tinggal satu angka lagi, Sumarti serta-merta bergeming. Sayup-sayup, ia mendengar suara putri bungsunya di seberang sana. “Lha, kok Ibu baru tahu wasiat Bapak sekarang. Piye toh, Bu? Piye? Oalah, Ibu ….Ibu.” Bla… bla… bla….

Sumarti pusing mendengarnya. Ditaruhnya gagang telepon.

Sumarti kembali ke sofa. Ia tak mau jadi bulan-bulanan putri bungsunya. Lebih baik tak mengabari dia daripada mendengar kata-kata tak senonoh.

Tebersit pula di benak Sumarti untuk mendiamkan wasiat almarhum itu. Tak perlu memberitahukannya kepada siapa pun, termasuk kaum kerabat. Tak perlu menyampaikannya kepada kedua putri dan kedua menantunya. Toh yang tahu cuma aku dan… Tuhan!

Entah kenapa, Sumarti merasa tak enak. Sumarti khawatir terjadi apa-apa pada dirinya. Sumarti pernah mendengar kerabatnya berkata, “Kalau kita tak turuti permintaan orang meninggal, rohnya akan mengikuti kita terus ke mana pun kita pergi.”

Sumarti tak mau diikuti roh suaminya. Sumarti ingin hidup normal. Tak ingin diganggu siapa pun. Sumarti ingin hidup dengan tenang, setenang kehidupan di desanya sebelum ia bertolak ke Jakarta. Tak mengherankan, kebiasaan-kebiasaan dari desa masih terbawa-bawa hingga ke kota metropolis. Salah satu kebiasaan itu adalah menyelitkan sesuatu di dadanya. “Biar tak lupa,” kata Sumarti mengenai kebiasaan itu. “Biar tak diambil orang.”

Sumarti lupa, kapan wasiat itu disisipkan ke dadanya. Ajaibnya, Sumarti pun tak ingat siapa yang menyelipkan ke dadanya: dia sendiri atau almarhum? Setelah usianya berkepala lima, Sumarti memang menjadi pelupa. Ia pernah mencari kacamatanya, padahal kacamata itu bertengger di kepalanya. Ia pun pernah mencari-cari kunci lemari, padahal kunci itu sedang dipegangnya. Tidak tertutup kemungkinan, almarhumlah yang menyelipkan wasiat itu ke dadanya dalam perjalanan ke rumah sakit—saat almarhum merasa sesak napas dan dadanya sakit? Atau siapa tahu, ketika sedang sekarat di rumah sakit, suaminya lantas buru-buru menyisipkan kertas itu ke dada Sumarti.

Tak ingat Sumarti sama sekali.

Sumarti hanya ingat, sejenak sebelum sekarat, almarhum merangkulnya sekelebatan. Sumarti lupa-lupa ingat, apakah almarhum menyelitkan sesuatu atau tidak ke dadanya. Setelah itu, suami tercintanya pun kaku dan rebah di pangkuannya.

Singgah juga pikiran buruk di kepala Sumarti. Sumarti ingin merobek-robek wasiat almarhum dan mencampakkannya ke tempat sampah. Atau membakarnya sekalian agar tak berbekas. Toh tak ada yang tahu. Namun, Sumarti ketir-ketir juga. Kenalannya pernah berkata, “Tak baik menolak permintaan orang yang sudah mati, nanti hidup kita tak tenang.”

“Nuwun sewu…,” suara pembantu Sumarti terdengar dari arah belakang.

“Makan malamnya tambah dingin, Nyonya.”

Sumarti menoleh ke belakang.

“Ya, ya, saya akan makan….”

Malam pun kian merambat di ruang keluarga Sumarti.

Jakarta, 5 Juni 2007

Cinta di Atas Perahu Cadik

Oleh : Seno Gumira Ajidarma


Bersama dengan datangnya pagi maka air laut di tepi pantai itu segera menjadi hijau. Hayati yang biasa memikul air sejak subuh, sambil menuruni tebing bisa melihat bebatuan di dasar pantai yang tampak kabur di bawah permukaan air laut yang hijau itu. Cahaya keemasan matahari pagi menyapu pantai, membuat pasir yang basah berkilat keemasan setiap kali lidah ombak kembali surut ke laut. Onggokan batu karang yang kadang-kadang menyerupai perahu tetap teronggok sejak semalam, sejak bertahun, sejak beribu-ribu tahun yang lalu. Bukankah memang perlu waktu jutaan tahun bagi angin untuk membentuk dinding karang menjadi onggokan batu yang mirip dengan sebuah perahu.

Para nelayan memang hanya tahu perahu. Bulan sabit mereka hubungkan dengan perahu, gugusan bintang mereka hubung-hubungkan dengan cadik penyeimbang perahu, seolah-olah angkasa raya adalah ruang pelayaran bagi perahu-perahu seperti yang mereka miliki, bahkan atap rumah-rumah mereka dibuat seperti ujung-ujung perahu. Tentu, bagaimana mungkin kehidupan para nelayan dilepaskan dari perahu?

Hayati masih terus menuruni tebing setengah berlari dengan pikulan air pada bahunya. Kakinya yang telanjang bagaikan mempunyai alat perekat, melangkah di atas batu-batu hitam berlumut tanpa pernah terpeleset sama sekali, sekaligus bagaikan terlapis karet atau plastik alas sepatu karena seolah tidak berasa sedikit pun juga ketika menapak di atas batu-batu karang yang tajam tiada berperi.

“Sukab! Tunggu aku!”

Di pantai, tiba-tiba terdengar derum suara mesin.

“Cepatlah!” ujar lelaki bernama Sukab itu.

Ternyata Hayati tidak langsung menuju ke perahu bermesin tempel tersebut, melainkan berlari dengan pikulan air yang berat di bahunya itu. Hayati berlari begitu cepat, seolah-olah beban di bahunya tiada mempunyai arti sama sekali. Ia meletakkannya begitu saja di samping gubuknya, lantas berlari kembali ke arah perahu Sukab.

“Hayati! Mau ke mana?”

Seorang nenek tua muncul di pintu gubuk. Terlihat Hayati mengangkat kainnya dan berlari cepat sekali. Lidah-lidah ombak berkecipak dalam laju lari Hayati. Wajahnya begitu cerah menembus angin yang selalu ribut, yang selalu memberi kesan betapa sesuatu sedang terjadi. Seekor anjing bangkit dari lamunannya yang panjang, lantas melangkah ringan sepanjang pantai yang pada pagi itu baru memperlihatkan jejak-jejak kaki Sukab dan Hayati.

Perahu Sukab melaju ke tengah laut. Seorang lelaki muncul dari dalam gubuk.

“Ke mana Hayati, Mak?”

Nenek tua itu menoleh dengan kesal.

“Pergi bersama Sukab tentunya! Kejar sana ke tengah laut! Lelaki apa kau ini! Sudah tahu istri dibawa orang, bukannya mengamuk malah merestui!”

Lelaki itu menggeleng-gelengkan kepala.

“Hayati dan Sukab saling mencintai, kami akan bercerai dan biarlah dia bahagia menikahi Sukab, aku juga sudah bicara kepadanya.”

Nenek yang sudah bungkuk itu mengibaskan tangan.

“Dullaaaaah! Dullah! Suami lain sudah mencabut badik dan mengeluarkan usus Sukab jahanam itu!”

Lelaki yang agaknya bernama Dullah itu masuk kembali, masih terdengar suaranya sambil tertawa dari dalam gubuk.

“Cabut badik? Heheheh. Itu sudah tidak musim lagi Mak! Lebih baik cari istri lain! Tapi aku lebih suka nonton tivi!”

Angin bertiup kencang, sangat kencang, dan memang selalu kencang di pantai itu. Perahu Sukab yang juga bercadik melaju bersama cinta membara di atasnya.

Pada akhir hari setelah senja menggelap, burung-burung camar menghilang, dan perahu-perahu lain telah berjajar-jajar kembali di pantai sepanjang kampung nelayan itu, perahu Sukab belum juga kelihatan.

Menjelang tengah malam, nenek tua itu pergi dari satu gubuk ke gubuk lain, menanyakan apakah mereka melihat perahu Sukab yang membawa Hayati di atasnya. Jawaban mereka bermacam-macam, tetapi membentuk suatu rangkaian.

“Ya, kulihat perahu Sukab menyalipku dengan Hayati di atasnya. Kulihat mereka tertawa-tawa.”

“Perahu Sukab menyalipku, kulihat Hayati menyuapi Sukab dengan nasi kuning dan mereka tampaknya sangat bahagia.”

“Oh, ya, jadi itu perahu Sukab! Kulihat perahu berlayar kumal itu menuruti angin, mesinnya sudah mati, tetapi tidak tampak seorang pun di atasnya.”

Nenek itu memaki.

“Istri orang di perahu suami orang! Keterlaluan!”

Namun ia masih mengetuk pintu gubuk-gubuk yang lain.

“Aku lihat perahunya, tetapi tidak seorang pun di atasnya. Bukankah memang selalu begitu jika Hayati berada di perahu Sukab?”

“Ya, tidakkah selalu begitu? Kalau Hayati naik perahu Sukab, bukannya tambah penumpang, tetapi orangnya malah berkurang?”

Melangkah sepanjang pantai sembari menghindari air pasang, nenek tua itu menggerundal sendirian.

“Bermain cinta di atas perahu! Perbuatan yang mengundang kutukan!”

Ia menuju gubuk Sukab. Seorang anak perempuan yang rambutnya merah membuka pintu itu, di dalam terlihat istri Sukab terkapar meriang karena malaria.

“Waleh! Apa kau tahu Sukab pergi dengan Hayati?”

Perempuan bernama Waleh itu menggigil di dalam kain batik yang lusuh, mulutnya bergemeletuk seperti sebuah mesin. Wajahnya pucat, berkeringat, dan di dahinya tertempel sebuah koyo. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.

Nenek tua itu melihat ke sekeliling. Isinya sama saja dengan isi semua gubuk nelayan yang lain. Dipan yang buruk, lemari kayu yang buruk, pakaian yang buruk tergantung di sana-sini, meja buruk, kursi buruk, dan jala di dinding kayu, berikut pancing dan bubu. Ada juga pesawat televisi, tetapi tampaknya sudah mati. Alas kaki yang serba buruk, tentu saja tidak ada sepatu, hanya sandal jepit yang jebol. Sebuah foto pasangan bintang film India, lelaki dan perempuan yang sedang tertawa dengan mata genit, dari sebuah penanggalan yang sudah bertahun-tahun lewat.

Ia tidak melihat sesuatu pun yang aneh, tapi mungkin ada juga yang lain. Sebuah foto Bung Karno yang usang dan tampak terlalu besar untuk rumah gubuk ini, di dalam sebuah bingkai kaca yang juga kotor. Nyamuk berterbangan masuk karena pintu dibuka.

Pandangan nenek tua itu tertumbuk kepada anak perempuan yang menatapnya.

“Mana Bapakmu?”

Anak itu hanya menunjuk ke arah suara laut, ombak yang berdebur dan mengempas dengan ganas.

Nenek itu lagi-lagi menggelengkan kepala.

“Anak apa ini? Umur lima tahun belum juga bisa bicara!”

Waleh hanya menggigil di balik kain batik lusuh bergambar kupu-kupu dan burung hong. Giginya tambah gemeletuk dalam perputaran roda-roda mesin malaria.

Nenek itu sudah mau melangkah keluar dengan putus asa, ketika terdengar suara lemah dari balik gigi yang gemeletuk itu.

“Aku sudah tahu…”

“Apa yang kamu sudah tahu, Waleh?”

“Tentang mereka…”

Nenek itu mendengus.

“Ya, kamu tahu dan tidak berbuat apa-apa! Dulu suamiku pergi ke kota dengan Wiji, begitu pulang kujambak rambutnya dan kuseret dia sepanjang pantai, dan suamiku masuk rumah sakit karena badik suami Wiji. Masih juga mereka berlayar dan tidak pulang kembali! Semua orang yang melaut bilang tidak melihat sesuatu pun di atas perahu ketika melewati mereka, tapi ada yang hanya melihat perempuan jalang itu tidak memakai apa-apa meski suamiku tidak kelihatan di bawahnya! Mengerti kamu?”

Waleh yang menggigil hanya memandangnya, seperti sudah tidak sanggup berpikir lagi.

“Aku hanya mau bukti bahwa menantuku mati karena pergi dengan lelaki bukan suaminya dan bermain cinta di atas perahu! Alam tidak akan pernah keliru! Hanya para pendosa akan menjadi korban kutukannya! Tapi kamu rugi belum menghukum si jalang Hayati!”

Mendengar ucapan itu, Waleh tampak berusaha keras melawan malarianya agar bisa berbicara.

“Aku memang hanya orang kampung, Ibu, tetapi aku tidak mau menjadi orang kampungan yang mengumbar amarah menggebu-gebu. Kudoakan suamiku pulang dengan selamat—dan jika dia bahagia bersama Hayati, melalui perceraian, agama kita telah memberi jalan agar mereka bisa dikukuhkan.”

Waleh yang seperti telah mengeluarkan segenap daya hidupnya untuk mengeluarkan kata-kata seperti itu, langsung menggigil dan mulutnya bergemeletukan kembali, matanya terpejam tak dibuka-bukanya lagi.

Nenek tua itu terdiam.

Hari pertama, kedua, dan ketiga setelah perahu Sukab tidak juga kembali, orang-orang di kampung nelayan itu masih membayangkan, bahwa jika bukan perahu Sukab muncul kembali di cakrawala, maka tentu mayat Sukab atau Hayati akan tiba-tiba menggelinding dilemparkan ombak ke pantai. Namun karena tidak satu pun dari ketiganya muncul kembali, mereka percaya perahu Sukab terseret ombak ke seberang benua. Hal itu selalu mungkin dan sangat mungkin, karena memang sering terjadi. Mereka bisa terseret ombak ke sebuah negeri lain dan kembali dengan pesawat terbang, atau memang hilang selama-lamanya tanpa kejelasan lagi.

“Aku orang terakhir yang melihat Sukab dan Hayati di kejauhan, perahu mereka jauh melewati batas pencarian ikan kita,” kata seseorang.

“Sukab penombak ikan paling ahli di kampung ini, sejak dulu ia selalu berlayar sendiri, mana mau ia mencari ikan bersama kita,” sahut yang lain, “apalagi jika di perahunya ada Hayati.”

“Apakah mereka bercinta di atas perahu?”

“Saat kulihat tentu tidak, banyak lumba-lumba melompat di samping perahu mereka.”

Segalanya mungkin terjadi. Juga mereka percaya bahwa mungkin juga Sukab dan Hayati telah bermain cinta di atas perahu dan seharusnya tahu pasti apa yang akan mereka alami.

Di pantai, kadang-kadang tampak Waleh menggandeng anak perempuannya yang bisu, menyusuri pantulan senja yang menguasai langit pada pasir basah. Kadang-kadang pula tampak Dullah yang menyusuri pantai saat para nelayan kembali, mereka seperti masih berharap dan menanti siapa tahu perahu cadik yang berisi Sukab dan Hayati itu kembali. Namun setelah hari keempat, tidak seorang pun dari para nelayan di kampung itu mengharapkan Sukab dan Hayati akan kembali.

“Kukira mereka tidak akan kembali, mungkin bukan mati, tetapi kawin lari ke sebuah pulau entah di mana. Kalian tahu seperti apa orang yang dimabuk cinta…”

Namun pada suatu malam, pada hari ketujuh, di tengah angin yang selalu ribut terlihat perahu Sukab mendarat juga, Hayati melompat turun begitu lunas perahu menggeser bibir pantai dan mendorong perahu itu sendirian ke atas pasir sebelum membuang jangkar kecilnya. Sukab tampak lemas di atas perahu. Di tubuh perahu itu terikat seekor ikan besar yang lebih besar dari perahu mereka, yang tentu saja sudah mati dan bau amisnya menyengat sekali. Tombak ikan bertali milik Sukab tampak menancap di punggungnya yang berdarah—tentu ikan besar ini yang telah menyeret mereka berdua selama ini, setelah bahan bakar untuk mesinnya habis.

Hayati tampak lebih kurus dari biasa dan keadaan mereka berdua memang lusuh sekali. Kulit terbakar, pakaian basah kuyup, dan gigi keduanya jika terlihat tentu sudah kuning sekali—tetapi mata keduanya menyala-nyala karena semangat hidup yang kuat serta api cinta yang membara. Keduanya terdiam saling memandang. Keduanya mengerti, cerita tentang ikan besar ini akan berujung kepada perceraian mereka masing-masing, yang dengan ini tak bisa dihindari lagi.

Namun keduanya juga mengerti, betapa bukan urusan siapa pun bahwa mereka telah bercinta di atas perahu cadik ini.

Sabang, Desember 2006/

Merauke, April 2007.

Para Pembongkar Kuburan Massal

Oleh : Veven Sp Wardhana

Malam demikian pekat, hujan begitu lebat ketika kami mendengar suara ayunan benda tajam yang menancap pada entah apa. Banyak yang menyangka itu berasal dari ladang Pak Runci, satu-satunya juru kunci kuburan massal di wilayah kami.

Malam yang gulita hanya bisa ditembus pandangan mata beberapa depa, sementara tumpahan hujan yang tercurah mengaburkan pendengaran penduduk—bahkan bagi yang tinggalnya terdekat dengan kuburan massal itu.

Ada yang mengira, yang terayun adalah mata cangkul yang menancap di tanah yang gembur, yang di baliknya teronggok umbi jalar atau ubi singkong. Ada yang menyangka, yang terayun adalah bilah celurit atau kelewang yang membabat batang jagung yang semakin ranum. Banyak—termasuk keluarga kami—yang sama-sama menafsirkan bahwa Pak Runci yang sudah berhari-hari sakit itu tak lagi kuat menahan lapar; dan jagung atau ubi atau umbi itu hendak diganjalkan ke dalam perutnya yang mungkin meronta pada malam yang begitu pekat dan hujan yang demikian lebat.

Beberapa hari ini beberapa sudut kuburan itu tak berpenerangan lampu minyak. Tak begitu ada yang memedulikan, memang, karena memang tak ada jalanan—termasuk jalanan setapak—yang melewati dekat-dekat lokasi pemakaman itu. Bukan karena kuburan itu dianggap angker, tapi bagi sebagian orang, mereka tak ingin mengenang dan membangkitkan masa lampau yang kelam yang menjadikan jatuh banyak korban dan kemudian secara massal dimakamkan.

Lampu minyak di ujung-ujung pemakaman yang dinyalakan saat menjelang senja menjadi penanda bahwa Pak Runci masih menjaga makam itu. Bisa dikatakan, Pak Runci adalah satu-satunya penduduk asli tertua yang masih tersisa, yang tak ikut menjadi korban, sementara penduduk lainnya—yang lolos sebagai korban—mulai meninggalkan wilayah untuk menata hidup baru di lain tempat atau bahkan memburu peruntungan ke negeri seberang.

Sama sekali Pak Runci tak pernah alpa menyalakan lampu minyak itu, kecuali jika dia jatuh sakit, yang tak memungkinkan dia berjalan menenteng lampu minyak untuk dipasang hingga ujung pemakaman. Maka, jika dalam hujan lebat dalam malam pekat itu Pak Runci mampu memangkas batang jagung atau menggali umbi, kami bersyukur karena artinya Pak Runci sudah sehat—dan esok senja ujung pemakaman itu tak lagi disungkup gelap yang pekat. Namun, senja esoknya—hingga malam dan kemudian pagi hari—kuburan itu tetap saja gelap dari ujung ke ujung. Juga malam kedua berikutnya. Apakah Pak Runci kehabisan minyak untuk menyalakan lampunya? Rasanya Pak Runci bukanlah sosok pemalu yang enggan meminta minyak pada kami—sebagaimana biasa dia lakukan jika kami alpa memasok minyak untuknya secara sukarela.

Jangan-jangan dia masih sakit atau sakitnya kian parah sehingga untuk meminta minyak pada kami tak bisa dia lakukan karena tubuhnya masih susah bangkit. Karena itu, pagi esoknya, kami—tak hanya keluarga kami, ternyata juga tetangga lain—menengok ke pondok Pak Runci, yang tak jauh dari gerbang pekuburan. Dia tampak lunglai di dipannya. Satu dua orang buru-buru mengambil makanan dan minuman dari rumahnya untuk disuapkan pada Pak Runci.

Pada malam yang pekat dalam hujan yang lebat beberapa hari lalu itu memang tak ada yang menebang jagung atau menggali umbi dan ubi. Kami tak melihat ada tanda-tanda batang jagung yang ditebang atau tanaman singkong dan umbi jalar yang dibongkar. Yang dibongkar justru sebuah kuburan. Itu ada di pojok pemakaman yang bersampingan dengan belukar. Seseorang dari kami yang berkeliling pemakaman melihatnya.

Lahat itu menganga terbuka. Tak lagi ada sosok mayat di dalamnya. Juga sama sekali tak ada kerangka.

”Diambil keluarganya,” ucap seseorang, Pak Runci, yang sudah berada di belakang kami. Pak Runci tampak bugar.

Kami saling pandang—tak paham.

”Dua-tiga malam yang lalu,” Pak Runci menambahkan. Tiga malam yang lalu: hujan luar biasa lebat, malam sangat pekat.

”Pak Runci tahu?” kami bertanya nyaris bersamaan.

”Tahu ada pembongkaran? Iya. Yang bersangkutan minta izin saya.”

”Pak Runci tahu kalau….”

”Tahu kalau itu keluarganya? Entahlah. Saya tak menghapal ratusan jenazah yang dimakamkan di sini. Kan semua sudah bergeletakan di banyak tempat. Kan waktu dimakamkan tak ada yang diminta mengenali satu per satu jenazah, karena wajahnya memang sudah bubrah—tak lagi dikenali.”

Jika Pak Runci tak termasuk yang merasa sangat kehilangan saat terjadi musibah, itu dikarenakan sejak dulu dia tak berkerabat dengan sesiapapun.

”Pak Runci tahu….”

”Tahu untuk apa kuburnya dibongkar? Tidak.”

”Maksud kami….”

”Mungkin keluarganya punya makam atau tanah di tempat lain yang dianggap lebih layak untuk mengubur,” Pak Runci memotong.

”Maksud kami, Pak Runci kenal keluarga yang membongkar makam itu?”

Pak Runci hanya bergumam.

Kami tak yakin apakah Pak Runci mengenal seorang demi seorang penduduk yang pernah tinggal—juga yang kemudian meninggalkan—perkampungan ini.

***

Malam tak begitu pekat. Beberapa lampu minyak membenderangi setiap sudut kuburan massal itu. Namun, tetap saja, hujan yang begitu lebat menutup jarak pandang kami. Mata kami memang sedang menatap mengamati arah pekuburan massal itu. Menurut Pak Runci, malam ini—beberapa hari setelah pembongkaran kuburan pada malam pekat hujan lebat itu—bakal datang entah siapa ke pemakaman. Tak diketahui pasti jamnya. Tak diketahui pasti untuk apa. Tak diketahui pasti, siapa seseorang itu.

”Bagaimana Pak Runci tahu?” saya bertanya.

”Nalurinya mengatakan. Begitu katanya. Entahlah,” suami saya menjawab.

Kami penasaran. Untuk apa kuburan—massal pula—kembali didedah, padahal yang dikubur tak pernah dikenali rincian wajah-wajahnya. Bukan saja tak dikenali karena telah dimakan waktu, tapi waktu dimakamkan pun wajah-wajah itu telah dicacah-cacah oleh musibah. Karenanya, alasan memindahkan kerangka ke tempat yang lebih layak, bagi kami—setidaknya bagi saya—sungguh tak masuk benak.

Tak hanya di ujung-ujung pemakaman dipasangi lampu minyak. Di setiap ujung gang dan perempatan jalan, juga di antaranya, kami pasang pula lentera. Dengan penerangan lentera dan lampu minyak, setiap jengkal jalanan di hadapan dan sekitaran rumah-rumah kami, juga jalanan menuju pekuburan, akan menampak siapa saja yang bahkan lewat selintasan ke pekuburan. Namun, begitu hujan menderas, dan kami masuk ke dalam rumah, pindah dari teras karena menghindari percik air hujan yang menempias, kami jadi gagal mengamati kalau-kalau ada yang mendatangi pekuburan itu.

Hingga menjelang fajar, hujan masih membilas-bilas. Pelupuk mata kami mulai terkatup digelayuti kantuk. Kami rasa, tak ada yang mendatangi pekuburan massal itu yang kemudian membongkar salah satu sudutnya. Kami salah, ternyata. Begitu hujan mulai mereda dan matahari membiaskan cahayanya, kami dengar suara teriakan entah siapa dari arah pekuburan. Ada tiga lubang penggalian yang letaknya berjauhan dari pembongkaran pertama. Jenazah—mungkin kerangka, mungkin sekadar serbuk yang sudah berbaur tanah—tak lagi ada di dalamnya.

Tampaknya, penggalian itu dilakukan saat kami disungkup rasa kantuk ketika menjelang fajar itu. Rasa kantuk itu telah membuat telinga kami tak lagi peka untuk mendengar suara-suara ayunan cangkul yang beradu dengan tanah yang dibongkar.

Naluri Pak Runci terbukti.

Atau bukan naluri, melainkan benar-benar ada seseorang yang memberitahunya, meminta izin, sebagaimana kejadian pertama pada malam tanpa lentera dan hujan yang mendera-dera itu.

”Jika benar ada yang mendatangi Pak Runci, berarti Pak Runci membohongi kita,” ujar suami saya, yang juga menjadi ujaran penduduk lainnya.

”Tapi, apa untungnya Pak Runci berbohong?” suami saya bergumam, terkesan membantah kesimpulannya sendiri.

”Lagian, tak ada yang mengharuskan Pak Runci untuk melapor ke kita,” timpal saya pada suami saya saat kami makan malam.

”Lebih tepatnya, tak ada yang dirugikan di kampung kita ini karena dibongkarnya kuburan itu,” saya menambahkan.

”Juga hilangnya kerangka-kerangka itu,” suami saya menegaskan.

Gemuruh guntur di langit menghentikan percakapan kami. Kami buru-buru merapatkan daun pintu dan jendela karena hujan mendadak tumpah. Saya—juga suami saya—tak sempat menengok memastikan apakah lampu minyak sudah dipasang Pak Runci di segenap sudut pemakaman. Kalaupun lentera sempat kami pasang di depan rumah dan di setiap perempatan, pastilah akan segera susut, meredup, diguyur air hujan yang makin menderas, untuk kemudian padam.

Saya dan suami mencoba mencungkil-cungkil ingatan, apakah Pak Runci sempat memberitahu bahwa malam ini akan datang seseorang atau beberapa orang entah siapa hendak membongkar pemakaman massal. Namun, pemberitahuan Pak Runci—jika ada—tak lagi begitu penting, karena esoknya, setelah hujan yang terguyur sepanjang malam itu mereda, kami menemukan jawabannya, yakni: belasan kuburan dibongkar dan kerangka yang ada di dalamnya tak lagi ada di tempatnya.

”Saya setengah lupa setengah ingat mereka yang datang menggali kubur itu. Mereka adalah penduduk sini juga yang pindah rumah setelah musibah,” ungkap Pak Runci setelah kami mendesaknya agar memberikan keterangan. Kami, termasuk yang seharusnya sudah sampai di tempat kerja, pagi itu mendatangi pondok Pak Runci.

”Kata mereka, mereka hendak membuktikan bahwa kerabat mereka benar-benar meninggal. Suaminya tewas, istrinya wafat, orangtuanya—ayahnya atau ibunya atau dua-duanya—tak lagi bernyawa,” sangat panjang Pak Runci menjelaskan.

”Membuktikan pada siapa?” seseorang bertanya.

”Pada aturan di wilayah mereka berburu mata pencaharian. Mereka tak bisa menunjukkan bukti tertulis bahwa istri atau suaminya benar-benar meninggal.”

”Akta atau pencatatan kematian maksudnya?” Seseorang mencoba mempertegas.

”Dengan kepastian status mereka, janda atau duda, atau sebatangkara, mereka berhak mendapatkan santunan di wilayah tetangga,” Pak Runci tak menggubris pertanyaan.

”Lha, kan, semua surat-surat itu, termasuk akta tanah segala, ikut lebur dihancurkan musibah?” Seseorang tadi kembali mempertegas arah pembicaraan.

***

Senja jatuh di perbatasan. Banyak orang berbaris mengantre hendak melewati perbatasan yang ditandai oleh selarik garis itu. Wajah-wajah mereka lusuh karena lelah berjalan seharian dan semalaman. Mereka meninggalkan pemakaman massal pada dinihari usai menggali lahat yang diperkirakan sebagai tempat kerabatnya dikuburkan. Mereka bopong jenazah yang sesungguhnya sudah menjadi kerangka itu ke suatu tempat yang menyediakan peti jenazah. Setelah kerangka itu dimasukkan ke dalam peti, mereka menyeret peti itu menuju perbatasan. Seretan peti itu meninggalkan jejak berupa garis-garis bercak di sepanjang jalan yang mereka lewati, termasuk ketika kemudian menyeberangi sungai dan melintasi ngarai.

Sebelum benar-benar memasuki pintu-pintu gerbang yang dideret-deretkan di tembok yang memanjang dari pangkal ke tepian, ada berderet palang pintu yang dibuat dari bambu, yang dijaga para petugas. Mereka ini mencatat sosok-sosok yang menyeret peti mati itu, juga mencatati isi peti mati setelah terlebih dulu mereka membuka peti-peti itu. Setelah itu, para penjaga itu memberi selembar kertas kepada para penyeret peti mati itu. Lembaran kertas itulah yang dijadikan penanda bahwa pemegangnya diperbolehkan melewati gerbang yang dideretkan di tembok yang memanjang.

Begitu menerima lembaran kertas, rata-rata penerimanya langsung melonjak lega sebelum kemudian buru-buru menuju deretan gerbang. Di balik tembok yang memanjang itu, sekalipun dari kejauhan sudah tampak kilauan cahaya bauksit, mangan, perak, juga emas. Peti mati yang mereka seret sepanjang siang sepanjang malam itu begitu saja mereka tinggalkan di hadapan para penjaga. Memang, para penjaga itu akan melemparkan peti-peti dan isinya itu ke tubir jurang yang menganga di hadapan mereka ketika malam merayap perlahan.

****

Saya tiba di perbatasan juga pada saat matahari makin temaram. Saya rasa, bahkan sinar matahari tak pernah mampir di perbatasan ini. Udara cenderung menggigilkan.

”Nama?” tanya penjaga palang perbatasan begitu saya mendekati garis batas.

Saya sebutkan nama saya.

”Bukti apa hendak kamu sampaikan?” kata penjaga sambil membuka buku catatan.

”Saya seorang janda,” ujar saya.

”Buktinya apa?”

Saya mengerling ke peti yang saya seret semalaman hingga seharian. Penjaga itu memeriksa isi peti. Saya lihat wajahnya terperangah.

”Ini mayat baru?” katanya.

Saya mengiyakan. ”Beberapa hari lalu.”

”Ini bukan jenazah dari pemakaman!” penjaga itu membentak saya. Dia segera memberi isyarat kepada penjaga lain, yang segera meringkus saya dan melemparkan saya sejauh-jauhnya.

”Tapi saya janda. Saya punya hak mendapatkan santunan,” saya tersengal. Napas saya sesak.

”Santunan hanya untuk janda yang suaminya menjadi korban musibah. Atau anak-anak piatu, juga yatim, yang orangtuanya menjadi korban musibah. Kamu, bahkan kamu tak punya kerabat yang menjadi korban musibah. Juga suamimu.”

Benar. Penjaga itu tak salah ucap. Benar. Sejak beberapa hari lalu, semua jenazah, semua kerangka di kuburan massal sudah habis dibongkar. Karena itu, diam-diam saya asah ketajaman pedang sebelum kemudian saya hunus untuk saya tancapkan ke jantung suami saya setelah sebelumnya menerobos dan merontokkan tulang rusuknya.

Sangat ingin saya menjadi janda.***

Kupang, 06 Mei 2010;
Jakarta, 05 Juli 2010

Tulang Belulang

Oleh : Rama Dira J



Kini, kemana pun pergi, tulang belulang anaknya itu selalu ia bawa. Semuanya bermula dari kematian sang istri. Nyawa perempuan itu habis di tangan sendiri. Ia terjun bebas dari lantai dua belas. Pikiran sehatnya tandas setelah mendapati perutnya semakin membesar, berisi benih majikannya. Pada akhirnya, perempuan itu pulang dari negeri yang jauh dengan kondisi yang tak manusiawi, dalam sebuah peti mati murahan.

Lelaki itu tak bisa mengelak dari kenyataan yang menyakitkan ini. Serta-merta ia terhempas ke dalam duka yang nyaris tanpa ujung. Bukan semata tersebab kehilangan orang yang begitu ia cintai tapi juga sumber penghidupan. Selama ini, istrinya itu rutin mengirimkan uang asing dari negeri asing yang jika dirupiahkan, jumlahnya bisa membiayai lebih dari cukup hidupnya bersama anak semata wayang mereka.

Kenyataan yang tak dinyana itu memaksanya kembali menggeluti pekerjaan semula, berjualan obat tradisional racikan sendiri, di pasar. Tak seberapa uang yang bisa diperoleh dari situ. Bahkan, sering kali ia tak beroleh rupiah sama sekali. Masa jayanya tak lagi berbekas. Telah banyak penjual obat yang bermunculan sepeninggalannya. Orang-orang itu lebih lihai menggoda calon pembeli, menggelitik-gelitik rasa penasaran dengan mulut berbumbu mereka, menghipnotis secara tidak langsung sampai membuat mereka menjadi pelanggan setia.

Ia duduk terpaku dalam lamunan di belakang hamparan obat-obatan jualannya. Ia hanya mengandalkan tulisan sendiri di sebuah papan yang mengumumkan bahwa dialah penjual obat pertama di pasar itu sehingga semestinya kemanjuran obat yang ia jual tak akan ada yang bisa menandingi.

Setelah hari-hari tanpa hasil, hari ini hatinya senang bukan kepalang. Seorang kawan lama mampir dan lebih karena rasa kasihan, membeli sebotol obat gosok buatannya dengan bayaran dua kali lipat dari harga yang ditawarkan. Ia pun segera pulang setelah sebelumnya membeli dua bungkus nasi padang. Ia memutuskan untuk makan duluan. Sebungkus lagi ia sisakan buat anaknya.

Ia sangat menyayangi anaknya yang sudah beranjak bujang itu. Selama ini, dialah yang berperan besar menghalau kesepian dan kesendirian si penjual obat. Anak itu pula menjadi alasannya untuk kuat bertahan menjalani sisa hidup, meski dalam kesulitan, sepeninggalan istri tercinta.

Sampai malam tiba, anaknya tak segera menampakkan diri. Memang, waktu berangkat sekolah tadi pagi ia sempat berpamitan sambil mengatakan: sepulang dari sekolah, ia langsung menonton pertandingan bola di ibu kota. Klub kesayangannya akan main.

Sampai pagi keesokannya, anak itu belum juga datang. Justru mobil ambulans tiba dengan membawa sesosok jasad dalam kondisi yang mengenaskan. Itulah anaknya. Ia tewas setelah terjatuh dari atap kereta api yang tengah melaju. Dibantu oleh orang-orang kampung, dalam suasana hatinya yang tak karuan, anak itu dimakamkan siang itu juga.

Mulai malamnya, ia merasakan kesepian yang menakutkan, hidup sebatang kara yang begitu menyakitkan. Ia dikungkung kesepian yang mencekam, seperti yang mungkin dirasakan orang yang baru saja mati meninggalkan dunia dan susah payah beradaptasi dengan kehidupan di alam kubur yang benar-benar asing.

Tak tahan dalam teror penderitaan itu, dua minggu kemudian, ia nekad menggali kuburan anaknya. Pikirnya, daripada mereka hidup masing-masing di tempat yang berbeda, lebih baik mereka kembali hidup berdua lagi meski anaknya hanya tulang belulang kini.

”Aku kesepian. Kau pasti kesepian juga. Baiknya kita tetap hidup bersama saja. Kalau ibumu, tak akan sendirian dia dalam kubur. Ada nenek dan kakekmu di sana.” Ia berbicara pada tulang belulang anaknya itu. Tulang belulang itu ia bebaskan dari lumpur dan kotoran, ia mandikan. Ia sirami dengan minyak wangi, ia sayangi kemudian. Ia pun mengajaknya bertukar cerita sampai larut malam, sampai ia tertidur tak lagi memeluk guling, tapi tulang belulang itu. Malam itu juga, ia bermimpi indah.

Esok paginya, seperti biasa, dari rumah ia beranjak menuju pasar. Ada pemandangan yang tak biasa bagi orang-orang pasar pagi itu. Mereka melihatnya membawa tulang belulang. Mulanya orang-orang terteror dan enggan mendekat. Namun, lama kelamaan, rasa penasaran memicu terjadinya kerumunan di sekitar lelaki yang mereka kenal sebagai penjual obat itu.

”Apakah itu dijual?”

”Tidak.”

”Tulang belulang siapa itu?”

”Anakku.”

”Ha?”

Orang-orang langsung saja bubar jalan usai mendengar pengakuan yang mengejutkan itu. Dalam bisik-bisik, mereka mencapnya gila. Meski kerumunan telah bubar, ada seorang lelaki muda yang justru bertahan di hadapan si penjual obat.

”Mengapa masih di sini. Mengapa tak pergi juga seperti mereka?”

Lelaki itu tersenyum dan mengajukan permintaan yang aneh: ”Aku meminta air bekas bilasan tulang belulang itu.”

Penjual obat tersinggung dan tak mengindahkan permintaan itu. Karena tak digubris, lelaki muda itu berinisiatif mendapatkan sendiri apa yang dipintanya. Penjual obat tak sempat menghalangi gerak cepat lelaki muda itu yang mengambil salah satu bagian dari tulang belulang untuk kemudian ia siram. Air bekas menyiram tulang yang tertampung dalam baskom itulah yang kemudian diambilnya. Ia bergegas pergi dengan wajah sumringah setelah meninggalkan begitu saja selembar uang lima puluh ribu di hadapan si penjual obat.

Meski masih dilanda kebingungan bercampur marah yang tertahan, penjual obat menyambar uang itu dan memasukkannya ke sela kopiah miringnya. Ia mencoba untuk tenang dan menimbang-nimbang dengan akal, apa yang sesungguhnya terjadi barusan. Ia pun sampai pada kesimpulan bahwa, lelaki tadi pasti menganggap tulang belulang anaknya itu sebagai pembawa berkah. Dengan demikian, dalam sukacita ia mengambil air bilasan dari belulang itu demi hajat tertentu. Ia tak mau memperpanjang pikiran ke arah kejadian yang barusan. Ia cukup puas dengan pemberian lelaki muda itu. Dengan uang selembar tersebut, ia tak lagi perlu menjajakan dagangannya hari ini. Ia memutuskan pulang. Dari perhitungan, uang itu cukup untuk keperluan hidup sampai tiga hari. Ia akan berdiam diri saja di rumah selama tiga hari ke depan.

***

Ia belum bangun pagi itu. Pintu rumahnya digedor-gedor seseorang. Lebih karena ingin mengakhiri teror gedoran daripada mengetahui siapa yang melakukannya, ia beranjak dari tidur dan membuka segera pintu rumah dengan harapan urusan segera kelar dan ia bisa segera melanjutkan tidur. Ia tak begitu memperhatikan siapa yang berada di ambang pintu. Ia hanya mendengarkan beberapa baris omongannya. Permintaan lelaki itu, yang ingin mendapatkan lagi air siraman dari tulang belulang anaknya, membuatnya tahu itu pasti lelaki terakhir yang memberinya uang lima puluh ribu tiga hari yang lalu.

”Oh.. kamu..”

”Ya, Pak. Berilah lagi saya air tulang belulang itu. Soto saya laris manis tiga hari ini berkat kuah yang saya campurkan dengan air tulang belulang dari Bapak. Para pembeli bilang, kuah soto saya dahsyat nikmatnya.”

”Dari mana kamu tahu saya tinggal di sini?”

”Sama seperti waktu saya menemukan Bapak beberapa hari yang lalu di pasar, saya menemukan tempat tinggal Bapak ini berdasarkan bisikan spiritual.”

”Bisikan spiritual?”

Meski belum begitu paham dengan penjelasan si penjual soto, ia tak bisa mengelak untuk memenuhi permintaannya. Lebih-lebih lagi lelaki itu telah menyodorkan uang yang berlipat jumlahnya dibanding yang lalu. Kali ini, tiga lembar seratus ribuan.

Tanpa berpanjang lebar, ia segera menyiram tulang belulang anaknya dan mengisi jeriken lima liter bawaan si penjual soto. Sepeninggalan penjual soto, dia meledak dalam girang bukan main. Dari perhitungan, uang itu akan cukup untuk hidup selama seminggu. Ia segera menghampiri tulang belulang anaknya, memeluknya sebagai ungkapan rasa terima kasih tak terhingga.

***

Kabar mengenai kehebatan air bilasan tulang belulang milik si penjual obat segera merebak ke mana-mana, terbang bersama angin ke segenap penjuru. Setelah si penjual soto, berdatangan beragam orang, dari beraneka profesi, beragam desa dan kota dengan tujuan yang sama: ingin sukses dalam bidangnya masing-masing dengan air bilasan tulang belulang.

Sesungguhnya, ia sendiri sangsi dengan khasiat air tulang belulang itu sebagaimana yang mulai banyak diyakini orang-orang. Ia pun tak tahu sampai sejauh mana keyakinan orang-orang itu akan bertahan. Meski demikian, ia akan tetap melayani. Kapan lagi ia bisa memperoleh uang banyak dengan cara yang begitu mudah, bukan?

Kini, ia menetapkan tarif. Untuk satu jeriken lima liter air rendaman tulang belulang, ia memungut lima ratus ribu rupiah. Meski terhitung mahal, tak ada yang keberatan. Semakin hari semakin banyak orang yang berbondong-bondong dan rela antre kepanasan selama berjam-jam demi mendapatkan air rendaman tulang belulang.

Sampai saatnya kemudian, si tukang obat tak sanggup melayani sendiri orang-orang yang berdatangan tanpa henti. Ia lantas mengupah dua orang tetangganya sebagai asisten dan mulai menetapkan jam buka dan jam tutup pelayanan.

Orang yang berdatangan makin tak henti-henti. Meskipun suatu hari kenyataan pahit datang ke hadapan mereka di mana si penjual obat tak lagi bisa memberikan air rendaman tulang belulang sebab tulang belulang anaknya hilang. Ia tak tahu siapa yang telah mencurinya. Ia kini hanya mampu bersedih tanpa henti. Ia menyesal tak bisa menjaga dengan baik tulang belulang itu sampai-sampai ia mengutuk dirinya sendiri kini. Untuk sementara waktu, ia memutuskan menutup pintu rumahnya dan menghentikan pelayanan. Ia menawarkan hadiah berpuluh juta bagi siap saja yang bisa menemukan tulang belulang anaknya.

Sampai berminggu-minggu, tulang belulang si anak tak juga ditemukan. Sementara itu, antrean orang-orang tak henti memanjang. Dalam penantian tanpa kepastian, mereka tetap sabar. Meski rumah si penjual obat masih dalam kondisi tertutup. Beberapa hari kemudian, muncul bau busuk dari dalam rumah itu. Dari salah seseorang yang berinisiatif masuk ke dalam rumah, diketahui kemudian bahwa si tukang obat telah meninggal. Kenyataannya, ia mati dalam kesedihan tiada tara dan rasa kesepian yang menggunung setelah kehilangan tulang belulang anaknya.

Mendengar kabar kematian itu, tiba-tiba saja orang-orang berebutan masuk ke dalam rumah si penjual obat. Mereka menjadi liar, mereka sikut-sikutan, saling berebut mengambil bagian-bagian dari tubuh si penjual obat yang telah menjadi jasad. Mereka yakin, kesaktian air bilasan tulang belulang milik si tukang obat akan lebih hebat daripada air bilasan tulang belulang anaknya.

Samarinda, 2010